Wednesday, 16 February 2022

Pengertian Tasybih dan Tajsim Menurut Ahlussunnah

Rumusan bahasa :

Ma’na kulli : Pemahaman makna secara umumnya

Al-Qadr al-Musytarak : Kadar perkongsian

Al-Isytirak fil Ma’na : Perkongsian di dalam pemahaman maknanya

Kaifiyyah : Visualisasi (tata cara)

Jarihah : Organ atau anggota jasad

Allah ta’ala berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi “ (Q.S. as-Syura:11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya dari segi apapun, berikut penjelasannya :

Secara Nahwu :

Lafadz “ syaiun “ (شَيْئٌ) dalam ayat itu disebutkan dalam bentuk isim Nakirah setelah susunan Nafyun (penafian) (لَيْسَ), sedangkan isim Nakirah jika disebutkan setelah Nafyun, menjadi makna yang menyeluruh, artinya Allah menafikan keserupaan dan kesamaan Dzatnya dengan semua apapun dari makhluk-Nya.


Secara Balaghah :

Dalam ayat tersebut, kalimat tasybih Kaaf dan Mitsl menjadi satu. Jika kedua kalimat tasybih ini menjadi satu dalam konteks penafian, maka berfaedah menafikan sekecil-kecilnya penyerupaan.

Tasybih yang dibuang huruf tasybihnya, maka disebut tasybih muakkad, contoh : Zaidun Asadun (Zaid adalah singa). Dan tasybih yang disebutkan huruf tasybihnya, maka disebut tasybih mursal, contoh : Zaidul kal asadi (Zaid seperti singa).

Tasybih muakkad lebih kuat daripada tasybih mursal. Dan tasybih mursal lebih lemah daripada tasybih muakkad. Zaid adalah singa lebih kuat arah penyerupaannya ketimbang Zaid seperti singa. Dan tiap kali huruf tasybih ditambah, maka akan semakin lemah arah penyerupaannya. Zaid kal asad (zaid seperti singa) lebih kuat ketimbang zaid ka mitslil asad (zaid seperti umpama singa) karena ada tambahan huruf kaf dan mistl.

Kemudian jika tasybih yang paling lemah dimasukkan huruf nafyin (penafian), maka faedahnya adalah menafikan sekecil apapun dari keserupaan yakni menafikan arah penyerupamaan dari segala sudut.

Maka ayat di atas maknanya sesungguhnya Allah tidak ada satu pun makhluk yang menyerupainya dari segi apapun. Huruf kaf dalam ayat menafikan mumatsalah (persamaan) dan huruf mitsl menafikan musyabahah (penyerupaan). Maka ayat di atas menafikan mumtasalah dan musyabahah secara bersamaan. Contoh :

Jika kita berkata : (زيدٌ ليس كالأسد) maka kalimat itu berfaedah bahwa Zaid tidak menyerupai singa dari sebagian sisinya.

Tapi jika kita katakan : (زيدٌ ليس مثل الأسد) maka kalimat itu berfaedah bahwa Zaid tidak menyerupai singa dari semua sisi.

Dan jika kita katakan : (زيد ليس كمثل الأسد) maka kalimat itu faedahnya lebih sempurna dan mencangkup artinya sesungguhnya Zaid tidak sama dan tidak serupa dengan singa dari sisi manapun.

Jika kita artikan lafadz Mitsl dalam ayat itu berfungsi sebagai shifat, maka terkandung peringatan bahwasanya Allah Ta’ala walaupun disifati dengan banyak sifat-sifat manusia, maka persekutuan dalam sifat-sifat itu hanyalah dari segi lafadz bukan secara hakikatnya. Dan jika kita artikan mistl di situ sebagai syabih (serupa), maka itu adalah peringatan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya.

Dan lafadz Mitsl dalam ayat tersebut adalah lafadz-lafadz yang paling umum bagi penyerupaan. Al-Imam ahli lughah Fairus Abadi mengatakan :

أن الند يقال فبما يشاركه في الجوهرية فقط , والشكل يقال فيما يشاركه في القدر والمساحة , والشبه يقال فيما يشاركه في الكيفية فقط , والمساوي يقال فيما يشاركه في الكمية فقط , والمثل عام في جميع ذلك , ولهذا لما أراد الله نفي التشبيه من كل وجه خصه بالذكر , فقال تعالى في سورة الشورى : “ليس كمثله شيء

“ Sesungghnya Nidd itu sesuatu yang menyerupai di dalam materinya saja. Syakl menyerupai di dalam kadar dan batasan. Syabah menyerupai di dalam kaifiyyah saja. Al-Musawi menyerupai di dalam al-kumyah saja. Dan Mistl menyerupai secara umum di semua itu. Oleh sebab itu ketika Allah hendak menafikan tasybih dari segala sisi, Allah memilih secara khusus lafadz mitsl, maka Allah berfirman dalam surat asy-Syura, “ Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi “

Kesimpulannya : Ayat di atas menunjukkan bahwasanya Allah Maha Suci dari segala bentuk keserupaan atas makhluk-Nya. Maka persekutuan / perkongsian antara sifat Allah dan sifat Makhluk-Nya hanyalah persekutuan secara lafadznya saja bukan secara hakikatnya.

Al-Imam Baihaqi mengatakan :

ثم يعلم أن صانع العالم لا يشبه شيئا من العالم لأنه لو أشبه شيئا من المحدثات بجهة من الجهات لأشبهه في الحدوث من تلك الجهة , ومحال أن يكون القديم محدثا أو يكون قديما من جهة حديثا من جهة
“  kemudian hendaknya mengetahui, sesungguhnya Pencipta Alam tidaklah menyerupai akan sesuatu apapun dari alam ini. Karena jika Dia menyerupai sesuatu dari perkara yang baru (makhluk) dengan suatu arah, maka niscaya Allah akan menyerupai makhluk itu dalam kebaruannya dari arah itu. Dan mustahil Dzat yang Maha Dahulu itu bersifat baru atau bersifat Maha Dahulu dari segi satu arah dan bersifat baru dari segi arah lainnya “.[1]
Persamaan Antara sifat Allah dan makhluk-Nya bersifat lafdzi bukan hakiki.

Hakikat sesuatu terkadang memiliki kesamaan pada hakekat yang lainnya di semua dzatnya, sehingga memiliki keserupaan yang sempurna di Antara keduanya, seperti keserupaan manusia dengan manusia. Atau terkadang memiliki kesamaan di sebagian dzatnya, seperti kesamaan manusia dengan kuda atau itik dari sisi jenis dekatnya yakni jenis hayawaniyyahnya[2], atau kesamaan manusia dengan batu dari sisi jenis jauhnya yaitu jismiyyahnya.

Adapun kesamaan sang Pencipta dengan ciptaan-Nya di semua Dzat atau sebagiannya, maka telah dinafikan oleh dalil-dalil Naqli (Nash) dan Aqli (Akal).

Dan sesuatu itu terkadang memiliki kesamaan di dalam hal yang di luar dzat keduanya, ini disebut dengan “ isytirak fi ma’ani I’tibariyyah “ seperti perkongsian dua sesuatu yang berbeda di dalam penisbatan tindakan dan konsekuensinya atau lainnya. Atau seperti perkongsian hakikat Allah dengan hakikat makhluk-Nya dari sisi ketetapan dan kenyataan yakni yang kita sebut dengan wujud, artinya Allah dan manusia sama-sama wujud, akan tetapi wujud Allah dan makhluk-Nya berbeda, maka kesamaan wujud Allah dan makhluk-Nya hanyalah dari segi lafadznya saja bukan hakekat wujudnya.

Perkongsian di dalam perkara-perkara yang bersifat wujud, akan melazimkan bagi dua sesuatu yang berkongsi / bersyerikat pada perkara yang boleh bagi lainnya dan perkara yang wajib bagi lainnya. Jika dua sesuatu bersyerikat / berkongsi di dalam kelazimannya, maka sah saja menyebutkan nama bagi keduanya meskipun hakikatnya berbeda artinya adanya perkongsian nama tidak mengharuskan adanya keserupaan di dalam hakikatnya, akan tetapi cukup perkongsian atau bersyerikat (isytirak) di dalam kelazimannya saja atau ta’alluqnya. Contoh pendengaran, bagi manusia pendengaran itu adalah alat pendengaran manusia dengan telinga[3], ini hakikat makna pendengaran bagi makhluk, kelaziman dari pendengaran ini adalah tersingkapnya segala sesuatu yang didengar. Dan sifat pendengaran Allah adalah sifat yang dengan-Nya tersingkap segala yang didengar. Sedangkan tersingkapnya segala yang didengar bukanlah makna hakikatnya, akan tetapi itu sebuah kelaziman dari pendengaran.

Maka perkongsian / kesyerikataan pendengaran makhluk dengan pendengaran Allah, bukanlah di dalam asal makna dan hakikatnya, melainkan di dalam kelazimannya yaitu sama-sama tersingkapnya segala sesuatu yang didengar dengan berbeda pula hakikat kelazimannya. Kelaziman sifat bukanlah suatu perkara yang wujud yang berdiri di dalam dzat.

Kesimpulannya : Perkongsian atau kesyerikatan (isytirak) Antara sifat Allah Ta’ala dengan sifat makhluk-Nya adalah hanyalah isytirak di dalam salah satu kelaziman (lawazim), ta’allu (keterkaitan) dan I’tibar saja, bukan isytirak di dalam hakikat sifat tersebut, maka hal ini tidaklah dikatakan tasybih, karena tasybih adalah perkongsian / kesyerikatan di dalam hakikat-hakikat sifat. Oleh sebab itu Ahlus sunnah wal Jama’ah menta’rif sifat-sifat Allah dengan rumusan dan kelaziman, bukan dengan had dan hakikatnya, berbeda dengan mereka (wahabi) yang menetapkan sifat-sifat Allah setelah mereka memahami sifat semisalnya pada makhluk-makhluk Allah.

Perkongsian atau Kesyerikatan (isytirak) di dalam makna kulli (pemahaman makna secara umum).

Kaum wahabi meyakini bahwa isytirak / perkongsian di Antara sifat-sifat Allah dan sifat-sifat makhluk-Nya adalah isytirak di dalam makna kullinya (pemahaman makna secara umumnya). Contoh, mata (‘ain) secara penamaannya umumnya (makna kulli) yaitu jarihah atau organ untuk melihat, mereka mengartikan ‘ain atau mata secara pemahaman umumnya yang dipahami tapi kemudian wahabi menetapkan makna ini bagi Allah dan juga bagi makhluk-Nya, sehingga makna ‘ain secara umum disepakati (isytirak) antara mata Allah dan mata makhluk-Nya. Makna kulli ini tidak ada wujudnya di luar dan hanya ada dalam pikiran maksudnya Penamaan ‘am atau Lafaz Mutlak tidak wujud di dunia yang nyata (hanya wujud dalam pikiran), yang wujud di dunia yang nyata adalah Lafaz Muqayyad atau Penamaan Khas yang di-qaid-kan dengan mausuf atau mudof ilaih tertentu. Dan menurut mereka hal itu bukanlah tasybih atau penyerupaan kepada Allah dengan makhluk-Nya.

Padahal mereka justru jatuh pada jurang tasybih, sama ada mereka sadar ataupu tidak. Karena pada hakekatnya mereka telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya dari segi makna kulli-nya yang hanya ada dalam pikiran mereka. Sebab makna mata secara makna kulli-nya sama juga dengan makna hakekatnya (bukan majaz) yaitu jarihah atau organ yang digunakan untuk melihat. Ketika mata kita sandarkan kepada gajah, kucing, manusia, maka memang memiliki kaifiyyah (visualisi) yang berbeda-beda, yakni mata gajah besar, mata kucing kecil demikian mata manusia, namun makna kulli-nya adalah sama yaitu organ yang digunakan untuk melihat atau jarihah. Demikian juga ketika kaum wahabi menetapkan sifat mata secara hakekatnya (bukan majaz) maka ketika itu juga mereka menyamakan (mentasybih) Allah dengan makhluknya yakni Allah memiliki organ yang digunakan untuk melihat artinya Allah memiliki jarihah, walaupun kaifiyyahnya (visualisasinya) berbeda dari mata makhluk-Nya. Dan pada hakekatnya mereka hanya meniadakan atau menafikan lafaz tasybih saja bukan maknanya dan telah menetapkan kaifiyyah sifat bagi Allah.

Kemudian makna kulli yang mereka pahami ini, menurut mereka tidak wujud di dunia nyata dan hanya wujud di dalam pikiran saja. Pemahaman semacam ini hanya muncul dari angan-angan mereka saja tanpa ada sandaran dalil sama sekali baik naqli maupun hissi. Kerana ketika mereka mengucapkan Allah punya mata secara makna kulli-nya (pemahaman mata secara umumnya), maka sama saja mengatakan Allah punya mata sebagaimana makhluk-Nya punya mata. Tapi wahabi enggan mengatakan mata seperti mata makhluk-Nya, kerana kata mereka makna kulli tidak wujud di dunia nyata dan hanya wujud dalam pikiran saja. Di sinilah mereka sudah jatuh pada tasybih itu sendiri, mereka telah menetapkan bagi Allah makna sangkaan yang diciptakan pikiran mereka melalui khayalan mereka. Sehingga mereka telah membicarakan lebih dalam tentang Allah dengan menetapkan perkara-perkara khayalan pikiran mereka. Kerana mereka telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan Allah tidaklah dicapai dengan khayalan. Bagaimana mungkin Allah mengkhithab kita dengan perkara khayalan seperti ini ? padahal pemahaman semacam ini pun tidak dikenal oleh orang Arab…


Imam Dzun Nun al-Mashri mengatakan :

ﻣﻬﻤﺎ ﺗﺼﻮّﺭ ﻓِﻲ ﻭﻫْﻤﻚ، ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺑﺨﻼﻑ ﺫﻟﻚ

“ Kapan saja tergambar dalam angan-anganmu, maka Allah berbeda dari itu “[4]

Abu Manshur al-Baghdadi juga meriwayatkan dari imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan :

مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك

“ Kapan saja tergambar dalam hatimu, maka Allah berbeda dari hal itu “

Hal yang sama juga dikatakan oleh Abu Abdillah ‘Amr bin Utsman al-Makki :

ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺭﺣﻤﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻛﻞ ﻣﺎ ﺗﻮﻫﻤﻪ ﻗﻠﺒﻚ ﺃﻭ ﺭﺳﺦ ﻓﻲ ﻣﺠﺎﺭﻱ ﻓﻜﺮﺗﻚ ﺃﻭ ﺧﻄﺮ ﻓﻲ ﻣﻌﺎﺭﺿﺎﺕ ﻗﻠﺒﻚ ﻣﻦ ﺣﺴﻦ ﺃﻭ ﺑﻬﺎﺀ ﺃﻭ ﺇﺷﺮﺍﻑ ﺃﻭ ﺿﻴﺎﺀ ﺃﻭ ﺟﻤﺎﻝ ﺃﻭ ﺷﺒﺢ ﻣﺎﺛﻞ ﺃﻭ ﺷﺨﺺ ﻣﺘﻤﺜﻞ ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺑﺨﻼﻑ ﺫﻟﻚ ﻛﻠﻪ ﺑﻞ ﻫﻮ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻈﻢ ﻭﺃﺟﻞ ﻭﺃﻛﻤﻞ ﺃﻟﻢ ﺗﺴﻤﻊ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻴﺲ ﻛﻤﺜﻠﻪ ﺷﻲﺀ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻋﺰ ﻭ ﺟﻞ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻛﻔﻮﺍ ﺃﺣﺪ ﺃﻱ ﻻ ﺷﺒﻪ ﻭﻻ ﻧﻈﻴﺮ ﻭﻻ ﻣﺴﺎﻭﻱ ﻭﻻ ﻣﺜﻞ ﻭﻗﻒ ﻋﻨﺪ ﺧﺒﺮﻩ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﺴﻠﻤﺎ ﻣﺴﺘﺴﻠﻤﺎ

“ Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya apa yang dibayangkan oleh hatimu, atau mengakar di dalam peredaran pemikiranmu atau terlintas dalam sodoran-sodoran hatimu berupa kebagusan, kehormatan, kemuliaan, terang, indah, sosok hantu, atau sosok orang, maka Allah berbeda dari itu semua. Bahkan Allah Ta’ala lebih Agung, lebih Mulia dan lebih Indah. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi “ dan firman Allah Ta’ala “ Katakanlah Allah itu Maha Esa “ artinya Allah tidak memiliki syabih (serupa dalam kaifiyat), nadzhir (serupa dalam bentuk) dan musawi (serupa dalam kummiyyah) dan mitsl (serupa dalam semua hal). Berhenti ketika mendengar khobar tentang Dzat-Nya dengan pasrah dan tunduk . “[5]

Gambarannya seperti ini :

Ketika seseorang melihat kepada mata manusia, mata kucing, mata singa, mata burung dan mata gajah, maka pikiran menangkap bahwa semua mata yang disebutkan tadi memiliki isytirak (persekutuan) yang nyata (bukan tidak wujud) antara semuanya yaitu bahwa semua mata itu adalah organ untuk melihat dan menangkap yang dilihat, tentunya dengan kekhususan-kekhususan masing-masing ketika disandarkan, ditakhsish atau ditaqyid. Misal mata burung bentuk organnya kecil, sedangkan mata gajah bentuk ogannya besar dan semisalnya…

Dan setiap mata memiliki kaifiyyah kharijiyyah (visualisasi yang nyata) yang berbeda dari mata yang lainnya dan memiliki kadar (ukuran) yang juga dimiliki oleh mata yang lainnya dan inilah oleh wahabi yang mereka sebut “ Makna asal “. Yakni bahwa di alam nyata ini ada ukuran mata yang setiap makhluk berisytirak (bersekutu) dan ada ukuran mata yang masing-masing makhluk berbeda. Dan ukuran isytirak (al-qadr al-musytarak) mata ini adalah makna hakikat bagi lafadz ‘ain (mata), sedangkan makna hakikat di dalam nyata ini tidak lepas dari kaifiyyat (visualisasi) nya. Siapapun orangnya ketika melihat mata suatu makhluk, maka akan melihat apa yang menjadi perbedaan dari mata yang lainnya, meskipun makna mata secara umum didapati bagi setiap makhluk yang memiliki mata yaitu organ untuk melihat. Dan sesuatu yang menjadi perbedaan dari mata yang lainnya disebut kaifiyyah.

Ketika seseorang melihat mata kucing dan mata gajah, maka taqyid dan idhofah (kucing dan gajah) itu telah menafikan tasybih (penyerupaan) dari setiap sisinya akan tetapi tidak menafikan dari sebagian sisi lainnya. Maka ketika kita sandarkan mata pada kucing, akan menafikan secara muthlaq dengan mata gajah, karena mata kucing bentuknya kecil sedangkan mata gajah bentuknya besar, namun tidak menafikan makna hakikat mata itu sendiri di antara kucing dan gajah yaitu organ untuk melihat. Maka mata kucing adalah organ untuk melihat demikian juga mata gajah adalah organ untuk melihat, mata manusia, mata singa, mata burung dan seterusnya.

Maka barangsiapa yang mensibatkan mata secara makna hakikatnya (makna kulli), sungguh berarti dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya di dalam makna hakikat yang musytarak walaupun ia menafikan tasybih pada kaifiyat-Nya. Inilah sebenar-benarnya tasybih (penyerupaan) kepada Allah dengan makhluk-Nya.

Rumus wahabi :

Al-Qadr al-Musytarak : Makna Hakikat = Bukan Tasybih.

Rumus Aswaja :

Al-Qadr al-Musytarak : Fil Lafadz = Bukan Tasybih

Dalil dan bukti :

Sesuatu di luar pikiran itu, dipahami :

1. Adakalanya hanya ada makna kulli-nya saja yang (musytarak) tanpa kaifiyyat.

2. Adakalanya hanya ada kaifiyyat saja tanpa makna musytarak.

3. Ada dengan makna kulli dan melazimkan adanya kaifiyyat yang mengikutinya.

Yang pertama jelas bathil, karena pemahaman seperti itu berkonsekuensi tidak adanya perbedaan sifat dalam makna kulli-nya pada segala sesuatu. Contoh, “ semua mata itu sama tanpa adanya perbedaan sifatnya “. Jelas ini bathil dan bertentangan secara tabiat dan fisik, sebab meskipun mata kucing, gajah dan manusia itu sama dalam makna kulli-nya (pemahaman makna mata pada umumnya) yaitu organ untuk melihat akan tetapi ia pasti memiliki kaifiyyat yang berbeda-beda.

Yang kedua juga bathil, karena setiap kaifiyyat tidak akan berdiri dengan dzatnya sendiri, ia pasti membutuhkan tempat untuk berdiri. Sama ada kafiyyat itu berupa kummiyyah seperti merunduk, atau satuan dan fisik seperti rasa panas dan dingin, atau pun bersifat jiwa seperti rasa sakit dan lezat atau kaifiyyah lainnya.

Maka jelas yang ketiga lah yang haq dan benar yaitu setiap sesuatu di alam nyata ini (bukan dalam pikiran/khayalan) terdiri dari ukuran yang mengumpulkan di antara semuanya (al-Qadr al-Musytarak) dan juga kaifiyyat yang membedakan masing-masingnya. Ini semua sudah tetap dalam koridor fisik dan nyata. Ketika akal melihat suatu makhluk yang memiliki al-qadr al-musytarak, maka secara spontanitas akan menuntut mencari seuatu yang membedakannya dari makhluk lainnya yakni bahwa makna kulli itu melazimkan adanya isytirak fil ma’na.

Contoh, ketika Zaid melihat mata seekor kucing dan burung, maka Zaid paham bahwa kucing dan burung juga sama-sama memiliki mata. Kemudian secara tabiat yang sehat dan wajar, Zaid akan memahami bahwa mata kucing dan burung itu adalah organ untuk melihat. Dan tidak mungkin (mustahil) memahami makna mata kucing danmata burung dengan makna yang tidak wujud di dunia nyata dan hanya wujud di dalam khayalan atau pikiran saja. Ini bertentangan dengan fisik dan alam nyata. Nah, wahabi memiliki pemahaman bahwa Allah memiliki mata dengan makna kulli (pemahaman mata secara umum) tapi mereka mengatakan bahwa pemahaman makna kulli hanya ada dalam pikiran saja bukan dalam dunia nyata secara fisik. Ini jelas bathil dan melanggar sunnah (ketentuan) Allah sendiri.

Kesimpulannya : Menetapkan perkongsian antara Allah dan makhluk-Nya di dalam makna kulli yang ada dalam pikiran adalah sama saja menetapkan makna nyatanya di luar pikiran. Meskipun makna kulli di dalam pikiran membedakan kaifiyyatnya, akan tetapi kelazimannya di luar pikiran pasti ada dan wujud. Kaifiyyah inilah yang tidak boleh berkongsi dari segala sisinya.

Oleh sebab itu, al-Qadr al-Musytarak antara sifat Allah dan sifat makhluk-Nya hanyalah pada lafadznya saja bukan pada maknanya demi menghindari menyerupakan Allah kepada makhluk-Nya. Karena Allah telah berfirman dengan tegas :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi “ (Q.S. as-Syura:11)

Makna zahir.

Ketika seorang ayah mengajarkan anaknya, ia mengisyaratkan kepada matanya, lalu berkata “ ini mata “, kemudian ia mengisyaratkan kepada mata anaknya dan berkata : “ ini mata “. Walaupun mata ayah dan anaknya berbeda dalam visusalisasinya (kaifiyyahnya), maka anak akan memahami bahwa matanya dan mata ayahnya sama-sama organ yang manfaatnya untuk melihat. Maka tatkala anak itu melihat mata kucing dan gajah, kemudian ayahnya menanyakan hal itu, maka anak itu akan menajwab : “ Itu mata “. Namun saat sang ayah berbicara “ Mata Air “, sang anak akan bertanya : “ Apakah air punya mata ? “ maka pemahaman sang anak saat itu menjadi samar, kerana yang ia tahu selama ini adalah makna mata secara zahir dan hakekatnya yaitu organ yang digunakan untuk melihat. Itulah gambaran zahir dan hakekat dari lafaz mata yang sesungguhnya.

Ketika kaum wahabi menyandarkan lafaz mata kepada Allah secara zahir dan hakekatnya, secara spontanitas akan dipahami Allah memiliki organ yang digunakan untuk melihat walaupun menyebut kaifiyyah mata Allah berbeda. Justru ini merupakan tasybih besar (penyerupaaan yang besar) terhadap Allah dengan makhluk-Nya ketimbang mengatakan Allah ada kaifiyyah yang tidak diketahui. Sebab menetapkan kaifiyyah Allah yang berbeda dengan kaifiyyah makhluk, ini taysbih ringan ketimbang menetapkan organ atau anggota (jarihah) bagi Allah yang merupakan tasybih besar terhadap Allah dengan makhluk-Nya. Naudzu billahi min dzaalik..

Pertanyaan untuk wahabi :

Apa makna kulli yang berkongsi (musytarak) bagi sifat ‘ain (mata) ?? maka adakalanya mereka menjelaskan makna ini atau menyembunyikannya..

Jika mereka berani menjelaskannya, maka penjelasannya tidak lepas dari dua hal berikut :

1. Adakalanya mereka menjelaskan makna kulli sesuai makna secara bahasa yang dikenal, maka mereka terjerumus pada tasybih dan setelahnya tidak akan berfaedah apapun penetapan mereka terhadap kaifiyyahnya yang berbeda.

2. Adakalanya mereka menjelaskan dengan makna yang bukan makna secara bahasa yang dikenal, maka mereka pun telah jatuh pada takwil yang mereka sebut ta’thil.

Kalau mereka menyembunyikannya dan tidak mau menjelaskannya, maka sikap diam dan menyembunyikan mereka itu karena dua sebab :

1. Karena mereka tidak mengetahuinya, maka mereka jatuh pada tafwidh yang mereka sebut dengan tajhil (pembodohan). Dan tafwidh ini juga dilakukan oleh imam Ahmad bin Hanbal, beliau mengatakan :

نؤمن بها ونصدق بها ولا كيف ولا معنى ولا نرد منها شيئا ونعلم أن ما جاء به الرسول حق إذا كانت بأسانيد صحاح ولا نرد على رسول الله قوله ولا يوصف الله تعالى بأكثر مما وصف به نفسه أو وصفه به رسوله بلا حد ولا غاية ليس كمثله شيء وهو السميع البصير ولا يبلغ الواصفون صفته وصفاته منه ولا نتعدى القرآن والحديث فنقول كما قال ونصفه كما وصف نفسه ولا نتعدى ذلك نؤمن بالقرآن كله محكمه ومتشابهه ولا نزيل عنه صفة من صفاته لشناعة شنعث

“ Kami beriman dengannya dan membenarkannya tanpa membicarakan kaifiat dan makna dan kami tidak menolak suatu pun daripadanya dan kita tahu bahawa apa yang datang daripada Rasul adalah benar jika sanadnya sahih dan kita tidak akan membantah Rasulullah dalam perkataan baginda dan tidaklah disifatkan Allah melebihi daripada apa yang Dia sendiri sifatkan pada diriNya atau yang RasulNya sifatkan tanpa diberikan batasan (kaifiat) dan penghujung , “Tiada suatu pun menyamaiNya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [Maksud Surah al-Syura: 11], dan tidaklah dapat dicapai oleh mereka yang memhami sifat akan sifat-sifatNya dan sifat-sifatNya itu daripadaNya dan kita tidak akan melampaui al-Quran dan al-Hadis maka kami katakan seperti Dia katakan dan kami sifatkan dia seperti mana Dia sifatkan diriNya dan kita beriman dengan al-Quran seluruhnya Muhkam dan MutasyabihNya dan tidaklah kita hilangkan satu sifat daripada sifat-sifatNya kerana kekeliruan yang ditimbulkan”.[6]

2. Karena mereka tidak paham dan sulit memahami teks-teks yang ada tentang ini. Maka mereka telah bersikap taqiyyah, karena ini semacam tafwidh yang tercela menurut mereka. Diamnya mereka ini bertentangan dengan sikap mereka yang menyatakan keharusan (kewajiban) membawa nash shifat kepada makna-makna peletakannya sesuai bahasa Arabnya. Dan bertentangan dengan sikap mereka sendiri yang mewajibkan manusia untuk mengetahui nash-nash shifat tersebut. Bagaimana mungkin mereka mewajibkan suatu perkara kepada manusia yang mereka sendiri tidak memahaminya apalagi memahamkannya pada manusia ?

Seandainya seorang penuntut ilmu datang pada mereka dan meminta untuk menjelaskan makna shifat ‘ain (mata), maka apa yang akan mereka jawab ?? apakah mereka akan menjawab, “ Makna sifat ‘ain ada dalam dirimu dan kamu tidak mengetahuinya “. Maka apa yang menjadikan mereka tahu bahwa yang ada dalam diri si penuntut ilmu itu sahih atau bathil ??

Bahkan sebagian pendahulu mereka berkeyakinan bahwa menetapkan sifat Allah adalah setelah memahami hal yang semisalnya dari makhluk kemudian menetapkan kaifiyyah yang berbeda dengan kaifiyyah makhluk-Nya[7]. Padahal suatu yang semisaldari makhluk itu sangat lah jelas berupa organ atau jarihah, maka diamnya mereka hanyalah suatu bentuk pelarian semata, padahal kita tidak menanyakan kaifiyyahnya…

Bukankah kebanyakan wahabi dengan terang-terangan membawa sifat-sifat khobariyyah kepada makna sepatutnya dalam bahasa Arab ? mereka menafsrikan Istiwa dengan istiqrar, mereka menafsirkan nuzul dengan intiqal dari atas ke bawah ? maka diamnya mereka bertentangan dengan sikap mereka ini…kenapa pula mereka tidak diam dalam semua hal ini ?

3. karena takut dari ketahuannya mereka berlaku tasybih dan tajsim. Ini jelas bertentangan dengan keberanian ilmiyyah yang wajib bagi setiap orang memilikinya dalam membicarakan bab ini.

Dalam penjelasan yang telah berlalu, dapat kita ketahui bahwasanya mereka menetapkan makna musytarak (makna yang berkongsi) antara Allah dan makhluk, dan mereka memandang bahwa makna hakikat atau makna asal juga ditetapkan bagi Allah. Misal sifat ‘ain (mata). Makna musytarak mata adalah organ untuk melihat (jarihah) demikian juga makn hakikatnya atau makna asal adalah organ untuk melihat. Maka pemahaman mereka ini sudah pasti berkonsekuensi menetapkan kadar perkongsian di luar pikiran, akan tetapi mereka keras kepala dan berkhayal bahwa mereka telah menghindari bahaya dan berkata, bahwa segala sesuatu memiliki kekhususuan tersendiri sehingga tidaklah sesuatu itu didapati kecuali ia dita’yin dan ditaqyid. Padahal sebenarnya kekhususan itu adalah kaifiyyah yang mengikuti hakikatnya, mereka menafikan persekutuan Allah dengan makhluk-Nya dalam kaifiyatnya, akan tetapi di samping itu mereka menetapkan makna hakikatnya atau makna asalnya lalu menyerahkan kaifiyyahnya yang pantas bagi Allah.

Adapun Ahlus sunnah dari ulama salaf dan ulama setelah mereka menafikan isytirak / perkongsian antara Allah dan makhluk-Nya di dalam makna hakikatnya disertai menafikan asal kaifiyahnya dari Allah Ta’ala. Karena kaifiyyah dari sifat Allah dinafikan, sedangkan kaum wahabi menyerhakan kaifiyyah Allah setelah mereka menetapkan makna hakikatnya yang berkongsi itu, bukanlah penafian tapi hanyalah untuk perkongsian muthlak dari segala sisinya. Oleh sebab itu jika mereka mengatakan, “ Kami menetapkan bagi Allah sifat mata secara hakikatnya yang tidak seperti mata makhluk-Nya “, maka ucapan mereka ini tidak lah menafikan tasybih antara Allah dengan makhluk-Nya dari semua sisi, akan tetapi mereka hanya bermaksud menafikan tasybih dari kaifiyat mata saja dengan disertai menetapkan tasybih yang besar dalam hakikatnya itu. Maka tidaklah berguna ucapan mereka “ Mata yang hakikatnya tanpa tasybih “, karena mereka telah masuk ke dalam tasybih yang besar yaitu isytirak di dalam makna hakikatnya atau makna asalnya. Pada hakekatnya mereka tidak menafikan tasybih secara muthlak dan sebenarnya mereka hanya menafikan tamtsil saja bukan tasybih secara keseluruhan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Utsaimin secara terang-terangan :

نفي التشبيه على الإطلاق لا يصح ؛ لأن كل موجودين فلا بد أن يكون بينهما قدر مشترك يشتبهان فيه ، ويتميز كل واحد بما يختص به

Menafikan tasybih secara muthlaq tidaklah benar, karena setiap yang wujud wajib memiliki kadar perkongsian di antara keduanya yang serupa, dan memiliki kekhususan tersendiri dari maisng-masing “[8]

Ia juga mengatakan di dalam kitab lainnya :

وإن أردتَ التشبيه المطلق من كلّ وجه فهذا لغو , بمعنى أنّ الله تعالى لا يشابه الخلق في أي شيء فهذا غلط! , لأنه لا بد من الاشتراك في أصل المعنى)

“ Jika kamu bermaksud tasybih secara muthlaq dari segala arah, maka itu kesia-siaan, maknanya sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menyerupai makhluk-Nya dalam segala sesuatu, maka ini adalah salah, karena Allah Ta’ala wajib memiliki perkongsian dalam makna asalnya “.[9]

Kita berlindung dari pemahaman cacat semacam itu, al Imam ath-Thahawi mengatakan :

ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر فقد كفر

“ Barangsiapa yang mensifati Allah dengan makna-makna manusia, maka ia telah kafir “.[10]

Imam Ahmad juga berkata :

مَنْ قَالَ جِسْمٌ لاَ كَالْأَجْسَامِ كَفَرَ

“ Barangsiapa yang berkata “ Allah memiliki jisim yang tidak seperti jisim lainnya, maka ia telah kafir “. [11]

Imam asy-Syathibi mengatakan :

ومثاله في ملة الاسلام مذهب الظاهرية في اثبات الجوارح للرب المنزه عن النقائص من العين واليد والرجل والوجه المحسوسات والجهة وغير ذالك من الثابت للمحدثات

“ Dan misalnya (ahli bid’ah yang menyimpang dari ushul) di dalam agama Islam adalah madzhab Dhzahiriyyah (kelompok literalisme) yang menetapkan anggota tubuh (organ tubuh) bagi Allah yang Maha Suci dari segala kekurangan, berupa mata, tangan, kaki, wajah yang bersifat indrawi, arah dan selainnya dari penetapan hal-hal yang baru “.[12]

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
13-02-2014

[1] Al-I’tiqad : 37

[2] Dalam al-Quran manusia juga disebut Hayawan demikian juga secara Bahasa yang artinya makhluk hidup.

[3] Lihat Mu’jam Ibnu Faris : 3/102

[4] Tarikh al-Islam, adz-Dzahabi : 5/1138

[5] Hilyah al-Aulia : 10/291

[6] Zammut Takwil, Ibn Qudamah, m.s 22

[7] Sebagaimana Ibnu Taimiyyah menyatakannya dalam kitab Bayan Talbisnya juz 1 hal. 633 :

فمن أثبت لله سبحانه وتعالى أمراً من الصفات فإنما أثبته بعد أن فهم نظير ذلك من الموجودات , وأثبت القدر المطلق مع وصفه له بخاصة تمتنع فيها الشركة

“ Barangsiapa yang menetapkan untuk Allah Ta’ala suatu sifat, maka sesungguhnya ia menetapkan setelah memahami hal yang semisalnya dari makhluk, dan (kemudian) menetapkan kadar muthlak dsiertai pensifatan khusus yang mencegah dari persekutuan “

[8] Fatawa Ibnu Utsaimin : 10/770

[9] Syarh Akidah Ahlus sunnah wal Jama’ah, Ibnu Utsaimin: 226

[10] Ath-Thahawi, Abu Jakfar, al-Aqidah ath-Thahawiyyah : 26

[11] Tasyniif al-Masaami’ : 4/648

[12] Al-I’tisham : juz 1 halaman : 240, cetakan Dar al-Fikr-Maktabah lir Riyadh al-Haditsah- Bathah-Riyadh


Pada bagian pertama, kami telah membahas persoalan makna tasybih sesuai pemahaman para ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah. Yang kesimpulannya :

- Sesungguhnya Allah tidak ada satu pun makhluk yang menyerupainya dari segi apapun. Huruf kaf dalam ayat as-Syura : 11 menafikan mumatsalah (persamaan) dan huruf mitsl menafikan musyabahah (penyerupaan). Maka ayat tesebut menafikan mumtasalah dan musyabahah secara bersamaan.

- Ayat tersebut menunjukkan bahwasanya Allah Maha Suci dari segala bentuk keserupaan atas makhluk-Nya. Maka persekutuan / perkongsian antara sifat Allah dan sifat Makhluk-Nya hanyalah persekutuan secara lafadznya saja bukan secara hakikatnya.

- Ahlus sunnah dari ulama salaf dan ulama setelah mereka menafikan isytirak / perkongsian antara Allah dan makhluk-Nya di dalam makna hakikatnya disertai menafikan asal kaifiyahnya dari Allah Ta’ala. Karena kaifiyyah dari sifat Allah dinafikan, sedangkan kaum wahabi menyerahkan kaifiyyah Allah setelah mereka menetapkan makna hakikatnya yang berisytirak / berkongsi itu. Padahal makna hakikatnya yang berisytirak tidak ada lain mengandung tasybih (penyerupaan).

- Kaum wahabi pun dengan terang-terangan mengakui bahwa mereka tidak menafikan (meniadakan) tasybih secara keseluruhan kepada Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Utsaimin :

نفي التشبيه على الإطلاق لا يصح ؛ لأن كل موجودين فلا بد أن يكون بينهما قدر مشترك يشتبهان فيه ، ويتميز كل واحد بما يختص به

Menafikan tasybih secara muthlaq tidaklah benar, karena setiap yang wujud wajib memiliki kadar perkongsian di antara keduanya yang serupa, dan memiliki kekhususan tersendiri dari maisng-masing “[1]


Ia juga mengatakan :

وإن أردتَ التشبيه المطلق من كلّ وجه فهذا لغو , بمعنى أنّ الله تعالى لا يشابه الخلق في أي شيء فهذا غلط! , لأنه لا بد من الاشتراك في أصل المعنى)

“ Jika kamu bermaksud tasybih secara muthlaq dari segala arah, maka itu kesia-siaan, maknanya sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menyerupai makhluk-Nya dalam segala sesuatu, maka ini adalah salah, karena Allah Ta’ala wajib memiliki perkongsian dalam makna asalnya “.[2]

Dan pada bagian kedua ini, kami akan mengupas makna dan definisi jisim dan tajsim, agar kita benar-benar paham akidah yang haq dan dapat membedakan mana akidah ulama salaf shalih dan mana akidah kaum mujassimah yang mengklaim pengikut ulama salaf.

Pembahasan tentang makna dan definsisi jisim, merupakan suatu hal yang amat penting di dalam menilai sesorang itu telah terjangkiti virus tajsim. Karena penilaian atas sesuatu merupakan cabang dari hasil pengkajian suatu masalah. Jika suatu pengkajiannya rancu, maka penilaiannya pun juga akan rancu. Oleh sebab itu, kita lihat sebagian orang (kaum minoritas) memahami persoalan ini, seolah mengaku menjauhi tajsim padahal tanpa sadar telah terjerumus dalam lembah pemahaman tajsim yang sesungguhnya. Oleh karenanya sangat penting mengetahui hakikat jisim dan makna tajsim sebelum menilai hukum tajsim.
Ibnu Faris seorang ulama masyhur pakar bahasa Arab mengatakan dalam kitabnya :
جسم” الجيم والسين والميم , يدلّ على تجمع الشيء , فالجسم كل شخص مدرك , كذا قال ابن دريد , والجسيم : العظيم الجسم ، وكذلك الجسام

“ Jisim terdiri dari huruf jim, sin dan mim. Menunjukkan atas terkumpulnya sesuatu. Maka jisim artinya adalah sebuah sosok yang dapat diindra (dirasa), demikian Ibnu Darid mengatakan. Sedangkan Jasim adalah : orang yang besar jisimnya demikian juga jassam..”[3]

Dari definisi Ibnu Faris, dapat kita pahami bahwa jisim itu adalah sesuatu yang terkumpul atau menyatu, dan beliau menyebutkan definisi dari Ibn Darid bahwa jisim itu adalah sosok yang dapat dirasa dengan indra, maka tidak ada sesuatu yang dapat dirasa dengan indra kecuali sesuatu yang menyatu atau terkumpul.

Al-Azhari dalam kitabnya Tahdzib al-Lughah mengatakan :

جسم: قَالَ اللَّيْث: الجِسمُ يَجْمَعُ البَدَنَ وأعضاءَهُ من النَّاس والإبلِ والدَّوابِّ وَنَحْو ذَلِك مِمَّا عَظُمَ من الخَلق الجسيم

“ Jisim, al-laits mengatakan : Jisim itu mengumpulkan badan dan anggotanya dari manusia, unta dan semisalnya dari makhluk yang besar “[4]

Dalam Lisan al-Arab disebutkan :

الجِسْمُ : جماعة البَدَنِ أو الأعضاء من الناس والإبل والدواب وغيرهم من الأنواع العظيمة الخَلْق

“ Jisim adalah : kumpulan badan atau anggota tubuh manusia, unta dan makhluk lainnya dari sesuatu yang besar fisiknya “[5]

Jisim secara istilah :

Al-Imam ar-Raghib mengatakan :

جسم: الجسم ماله طول وعرض وعمق

“ Jisim adalah sesuatu yang memiliki ukuran panjang, lebar dan dalam “[6]

Imam Abu Sa’id al-Mutawalli asy-Syafi’i mengatakan :

واما الجسم فهو المؤلف واقل الجسم جوهران بينهما تأليف

“ Adapun jisim yaitu sesuatu yang tersusun, minimal disebut susunan terdiri dari dua materi yang di Antara keduanya ada susunan “[7]

Imam al-Qurthubi mengatakan :

والجسم هو المجتمع وأقل ما يقع عليه اسم الجسم جوهران مجتمعان وهذه الاصطلاحات وإن لم تكن موجودة في الصدر الأول فقد دل عليها معنى الكتاب والسنة فلا معنى لانكارها. وقد استعملها العلماء واصطلحوا عليها وبنوا عليها كلامهم وقتلوا بها خصومهم

“ Jisim adalah suatu yang tersusun, paling sedikit disebut jisim adalah terdiri dari dua materi yang tersusun. Istilah-istilah ini walaupun tidak ada di qurun pertama, tapi sungguh makna al-Quran dan sunnah telah menunjukkannya, maka taka da gunanya mengingkarinya. Sungguh para ulama telah menggunakan istilah tersebut dan menjadikan sebuah dasar dalam ilmu kalam mereka serta mampu mematahkan (hujjah) lawan-lawan mereka “[8]

Definisi istilah dari para ulama ini tidaklah keluar dari makna segi bahasanya, karena segala sesuatu yang besar yang tersusun sudah pasti memiliki ukuran panjang, lebar dan dalam.

Kesimpulan dari makna jisim adalah :

1. Sesuatu yang tersusun.

2. Sesuatu yang besar ukurannya

3. Sesuatu yang memiliki bentangan arah.

4. Sesuatu yang sedikitnya terdiri dari dua materi yang tersusun.

Dari makna jisim secara Bahasa maupun istilah, maka dapat kita pahami makna tajsim yaitu menganggap Dzat Allah memiliki bagian dan susunan.

Kaum wahabi, ketika mereka menafikan bagian dan susunan dari Dzat Allah, maka sesungguhnya mereka hanya menafikannya secara lafadznya saja, sedangkan maknanya mereka benar-benar menetapkannya. Kita buktikan apa sebenarnya yang mereka sebut dengan bagian (ab’adh) dan organ ?

Ibnu Utsaimin mengatakan :

لا نقول إنها أجزاء وأبعاض , بل نتحاشا هذا اللفظ , لكنّ مسماها لنا أجزاء وأبعاض , لأن الجزء والبعض : ما جاز انفصاله عن الكل فالرب عز وجل لا يتصور أن شيئًا من هذه الصفات التي وصف بها نفسه – كاليد – أن تزول أبدًا ؛ لأنه موصوف بها أزلًا وأبدًا , ولهذا لا نقول : إنه أبعاض وأجزاء

“ Kami tidak mengatakan sesungguhnya ia adalah bagian-bagian dan anggota, bahkan kami menjauhi lafadz ini, akan tetapi maknanya bagi kami adalah bagian dan anggota, karena bagian dan anggota adalah; sesuatu yang boleh terlepas dari keseluruhannya, maka Allah ta’ala tidak bisa tergambar sesungguhnya sifat-sifat yang Allah sifati diri-Nya ini seperti Yad (tangan) akan musnah selamanya, karena Allah disifati dengan tangan selamanya, oleh sebab itu kami tidak mengatakan Allah itu anggota dan bagian “.[9]

Ibnul Qayyim juga mengatakan :

وكذلك الأبعاض هي ما جاز مفارقتها وانفصالها وانفكاكها , وذلك في حق الرب تعالى محال , فليست أبعاضًا ولا جوارح

“ Demikian juga ab’aadh (organ/anggota) itu adalah sesuatu yang boleh terpisah dan terlepas, dan hal ini bagi Allah mustahil, maka Allah bukanlah anggota dan tubuh “[10]

Coba kita perhatikan definisi organ dan anggota menurut mereka, agar kita tahu apa yang dinafikan oleh mereka. Ibnu Utsaimin dan Ibnul Qayyim mendefinisikan bagian dan organ dengan sesuatu yang bisa terlepas dan terpisah dari keseluruhan. Definisi ini sama sekali tidak menunjukkan dari lafadznya itu sendiri bahkan tidak secara Bahasa, istilah dan ‘urf. Makna dan definisi ini, tidak lah masyhur (tersohor) di kalangan ulama ahli Bahasa Arab.

Adapun makna bagian (ab’adh), anggota / organ (jarihah) dan bagian / susunan (juz’u) yang ma’ruf (tersohor), maka mereka menetapkannya, walaupun mereka menolak lafadznya. Maka sadar ataupun tidak, mereka berkeyakinan bahwa Allah tersusun dari bagian atau organ meskipun mereka menolak lafadz bagian dan organ. Sifat ‘ain, yad, rijl, wajh dan semisalnya menurut mereka ini adalah (الاعيان) yakni sesuatu, maka Allah menurut mereka tersusun dan menyatukan dalam Dzatnya terhadap A’yaan (‘ain, yad, rijl, wajh) tersebut. Justru inilah pemahaman tajsim yang sesungguhnya. Naudzu billah min dzaalik…

Untuk menyiasati agar orang lain tidak meyakini mereka berpaham tajsim, maka mereka membuat suatu qaid atau syarat dalam makna tajsim yaitu suatu susunan yang awalnya terpisah kemudian tekumpul atau suatu kumpulan yang memungkinkan bisa terpisah, maka bagi mereka ini disebut jisim, kalau tidak didahului dengan terpisah atau tidak memungkinkan terpisah, maka bukanlah jisim. Inilah syarat sesuatu dapat disebut jisim menurut kaum wahabi dan taimiyyun.

Bahkan di Antara mereka adsa yang terang-terangan mengatakan bahwa menisbatkan jisim, jarihah dan a’dha bagi Allah tidaklah mengapa. Ibn Baaz mengatakan :

“ Meniadakan jisim, organ dan anggota tubuh dari Allah adalah termasuk ucapan yang tercela “[11]

Muhammad Khalil Harras mengatakan dalam ta’liqnya (komentarnya) terhadap kitab tauhidnya Ibnu Khuzaimah yang dicetak tahun 1403 terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah pada halaman 63 atau terbitan Dar al-Jail halaman 89 berikut :

“ Menggenggam tentunya dengan tangan secara hakekatnya bukan dengan nikmat. Jika mereka berkata “ Sesungguhnya huruf ba di sini bermakna sebab maksudnya dengan sebab iradah kenikmatan “, maka kita jawab pada mereka “ Dengan apa menggengam itu ?? karena sesungguhnya menggenggam itu butuh kepada alat, maka niscaya tak ada jawaban dari mereka, jika saja mereka mau merendahkan diri mereka “.

Mereka mengganti istilah ab’adh (bagian/anggota) dan tarkib (susunan) menjadi a’yaan padahal istilah a’yaan ini istilah bid’ah yang tdiak dikenal dalam al-Quran dan sunnah. Menurut mereka a’yan Allah ini yang membedakan Dzat Allah dari sesuatu lain-Nya, maka Dzat Allah memiliki a’yaan yang berbeda a’yan satunya dengan a’yan lainnya pada Dzat Allah dengan arah dan isyarat fisik kepada selainnya. Makna ini jelas tab’idh (pembagian) yang merupakan dari kelaziman jisim.

Hukum Tajsim (Menganggap Allah memiliki bagian dan susunan pada Dzat-Nya).

Setelah kita memahami makna jisim dan tajsim, lalu bagaimana hukumnya orang yang memiliki pemahaman tajsim tersebut ?

Para ulama sepakat mencela dan menilai nista dan buruk pemahaman tajsim dan para pelakunya. Jumhur ulama sepakat menilai kafir kepada orang yang meyakini tajsi m secara sharih (jelas dan tidak samar). Sedangkan para ulama berbeda pendapat penilaian hukum kepada orang yang meyakini tajsim secara tidak sharih, apakah dihukumi kafir atau berbuat dosa besar.

Ulama Hanafiyyah.

Para ulama Hanafiyyah berpendapat bahwa orang yang meyakini tajsim kepada Allah secara sharih semisal mengatakan, “ Allah itu jisim seperti jisim lainnya, maka dihukumi kafir. Adapun orang yang mengatakan, “ Jisim tapi bukan seperti jisim lainnya dan menafikan kelaziman jisim dari Allah, maka dia dihukumi mubatadi’ (pelaku bid’ah), sesat dan tidak dihukumi kafir “.

Imam al-Faqih al-Kamal Ibn al-Himam al-Hanafi mengatakan :

والمشبه اذا قال له تعالى يد ورجل كما للعباد فهو كافر ملعون وان قال جسم لا كالاجسام فهو مبتدع لانه ليس له الا اطلاق لفظ الجسم عليه وهو موهم للنقص فرفعه بقوله لا كالاجسام فلم يبق الا مجرد الاطلاق وذالك معصية تنتض سببا للعقاب لما قلناه من الايهام

“ Orang yang menyerupai Allah dengan makhluk-Nya jika mengatakan, “ Allah Ta’ala memiliki tangan dan kaki seperti hamba-Nya “, maka dia dihukumi kafir lagi terlaknat. Dan jika ia mengatakan, “ Allah itu jisim tidak seperti jisim lainya “, maka dia dihukumi pelaku bid’ah, karena dia tidak ada lain hanya mengatakan lafadz jisim secara umum yang mewahamkan kekurangan bagi Allah, lalu ia meniadakannya dengan ucapannya, “ Tidak seperti jisim lainnya “, maka ini adalah pengucapan jisim secara muthlaq maka ini adalah ma’shiat yang pantas mendapat hukuman karena ada waham (penyamaran) sebagaimana telah kami katakana “.[12]

Imam Ibnu Abidin al-Hanafi mengatakan :

قوله : كقوله جسم لا كالاجسام, وكذا لو لم يقل كالاجسام واما لو قال لا كالاجسام فلا يكفر لانه ليس فيه الا اطلاق لفظ الجسم الموهم للنقص فرفعه بقوله لاكالاجسام فلم يبق الا مجرد الاطلاق وذالك معصية

“ Ucapan ; “ Seperti perkataanya, “ Allah jisim seperti jisim lainnya “. Demikian juga seandainya ia tidak mengatakan, “ Seperti jisim lainya “. Adapun seandainya ia mengatakan, “ Tidak seperti jisim lainya, maka tidak dihukumi kafir, karena tidak ada lain hanyalah pengucapan jisim secara umum yang mewahmkan kepada kekurangan bagi Allah, kemudian diangkatnya dengan ucapan “ Tidak seperti jisim lainnya “, maka itu hanyalah semata-mata pengucapan secara umum saja dan hal itu dihukumi ma’shiat “.[13]

Dan masih banyak lagi pendapat ulama hanafiyyah yang senada di atas.

Ulama Malikiyyah.

Ulama Malikiyyah berpendapat kafirnya orang yang mengatakan “ Allah jisim seperti jisim lainnya “, dan menghukum pelaku bid’ah bagi orang yang mengatakan, “ Allah jisim tidak seperti jisim lainnya “.

Imam al-Qurthubi mengatakan :

السادسة: قوله تعالى: { فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَاءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ } قال شيخنا أبو العباس رحمة الله عليه: متبِعو المتشابه لا يخلو أن يتبعوه ويجمعوه طلباً للتشكيك في القرآن وإضلالِ العوامّ، كما فعلته الزنادقة والقرامِطة الطاعنون في القرآن؛ أو طلباً لاعتقاد ظواهر المتشابه، كما فعلته المجسِّمة الذِين جمعوا ما في الكتاب والسنة مما ظاهره الجِسمية حتى ٱعتقدوا أن البارىء تعالى جسم مجسم وصورة مصوّرة ذات وجه وعين ويد وجنب ورجل وأصبع، تعالى الله عن ذلكٰ أو يتبعوه على جهة إبداء تأويلاتها وإيضاح معانيها، أو كما فعل صبيغ حين أكثر على عمر فيه السؤال. فهذه أربعة أقسام:
الأول – لا شك في كفرهم، وأن حكم الله فيهم القتل من غير استتابة.
الثاني – الصحيح القول بتكفيرهم، إذ لا فرق بينهم وبين عباد الأصنام والصور، ويستتابون فإن تابوا وإلا قتلوا كما يفعل بمن ارتد.
الثالث – اختلفوا في جواز ذلك بناء على الخلاف في جواز تأويلها. وقد عرف، أن مذهب السلف ترك التعرض لتأويلها مع قطعهم باستحالة ظواهرها، فيقولون أمروها كما جاءت. وذهب بعضهم إلى إبداء تأويلاتها وحملها على ما يصح حمله في اللسان عليها من غير قطع بتعيين مجمل منها.
الرابع – الحكم فيه الأدب البليغ، كما فعله عمر بصبيغ

“Keenam: Firman Allah ((mereka mengikut apa yang samar daripadanya untuk mengkehendaki fitnah dan mengkehendaki ta’wilnya)). Guru kami Abu Al-Abbas berkata: “Mereka yang mengikuti mutasyabihat tidak lain apakah mengikuti mutasyabihat dan menghimpunkannya (menghimpunkan ayat-ayat mutasyabihat untuk menetapkan makna dhahir atau menetapkan kontradiksi antara ayat-ayat Al-Qur’an) untuk membuat keraguan dalam Al-Qur’an dan menyesatkan orang awam sebagaimana yang dilakukan oleh Zindiq, Qaramithoh yang menuduh Al-Qur’an, ataupun percaya/berpegang dengan dhahir-dhahir (makna dhahir) mutasyabih sebagaimana yang dilakukan oleh mujassimah yang menghimpun yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mana makna dhahirnya mengandungi makna kejisiman, lalu mempercayai Allah itu suatu jisim yang berjisim, suatu rupa yang mempunyai rupa bentuk, yang mempunyai wajah, mata, tangan, sisi, kaki dan jemari yang mana maha suci Allah daripadanya (sifat-sifat tersebut). Atau mengikuti dari segi memulaikan takwil dan menejlaskan makna-makna, atau seperti apa yang dilakukan oleh Shabigh ketika banyak bertanya kepada Umar tentang ini. Maka ini ada empat macam :

Pertama : mereka tidak diragukan lagi kekafirannya, dan hokum Allah berlaku baginay dengan membunuhnya tanpa memintanya bertaubat.

Kedua : pendapat yang sahih, mereka dihukumi kafir karena tidak ada bedanya mereka dengan para penyembah berhala dan patung. Dan mereka dituntut untuk bertaubat, jika tidak bertaubat, maka mereka dibunuh sebagaimana hokum murtad.

Ketiga : ulama berbeda pendapat di dalam kebolehan pengucapan itu, karena didasari perbedaan kebolahan takwil atasnya. Dan telah diketahui bahwasanya madzhab ulama salaf meninggalkan perbincangan tentang maknanya disertai kepastian mereka terhadap kemustahilan makna dhahirnya, sehingga mereka mengatakan, “ Laluilah sebagaimana datangnya “. Sebagian mereka berpenda pat kepada memulainya takwil atasnya dan mengarahkan maknanya pada makna yang sahih di lisan tanpa memastikannya dengan menentukan yang mujmal darinya.

Keempat : menghukuminya dengan adab yang tinggi sebagaimana dilakukan Umat kepada Shabigh ”[14]

Imam ash-Shawi mengatakan :

قوله اي يقتضي الكفر اي يدل عليه دلالة التزامية كقوله جسم متحيز او كالاجسام واما لو قال جسم لا كالاجسام فهو فاسق وفي كفره قولان رجح عدم كفره

“ Ucapannya, “ menyebabkan kekafiran “ artinya menunjukkan dengan petunjuk yang bersifat kelaziman seperti ucapannya, “ Allah jisim yang memiliki batasan “, atau mengatakan “ Allah jisim seperti jisim lainnya “. Adapun jika mengatakan, “ Allah jisim tidak seperti jisim lainnya “, maka dia dihukumi fasik, dan hokum kafirnya terdapat dua pendapat, pendapat yang rajah adalah tidak kafir “.[15]

Ulama Syafi’iyyah.

Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa mereka yang mengatakan, “ Allah jisim tidak seperti jisim lainnya “ adalah sesat. Adapun mereka yang mengatakan, “ Allah jisim seperti jisim lainnya “, atau memberikan hakikat jisim yang berupa susunan dan batasn pada-Nya walaupun tidak mengucapkan dengan lafadz jisim, maka ulama berbeda pendapat a pakah dihukumi kafir atau tidak.

Imam an-Nawawi mengatakan :

قد ذكرنا ان من يكفر ببدعته لاتصح الصلاة وراءه ومن لايكفر تصح فممن يكفر من يجسم تجسيما صريحا

“ Kami telah sebutkan bahwa orang yang dihukumi kafir dengan kebid’ahannya tidkalah sah sholat di belakangnya, dan orang yang tidak dihukumi kafir, maka sah sholatnya. Termasuk orang yang dihukumi kafir adalah orang yang menjsimkan Allah secara jelas “.[16]

Imam Badruddin az-Zarkasyi mengatakan : “ Adapun orang yang keliru di dalam masalah ushul dan kaum mujassimah, maka tidak diragukan dosa, kefsikan dan kesesatannya. Dan berbeda pendapat dalam hokum kekafirannya. Imam al-Asy’ari memiliki dua pendapat, imam al-Haramain dan Ibn al-Quysairi d an yang lainnya mengatakan, “ Ucapan yang paling jelas dari dua pendapatnya (al-Asy’ari) adalah tidak menghukumi kafir “, dan inilah pilihan al-Qadhi “.[17]

Ulama Hanabilah.

Ulama Hanabilah berpendapat kafirnya para mujtahid mujassimah bukan para muqallidnya (pengikutnya).

Muhammad bin Abi Ya’la mengatakan menukil dari ayahnya :

فمن اعتقد ان الله سبحانه جسم من الاجسام واعطاه حقيقة الجسم من التأليف والانتقال فهو كافر لانه غير عارف بالله عز وجل لان الله سبحانه يستحيل وصفه بهذه الصفات واذا لم يعرف الله سبحانه وجب ان يكون كافرا

“ Barangsiapa yang berkeyakinan Allah Ta’ala dari jisim dan memberikan haikat jisim berupa susunan dan perpindahan, maka dia dihukumi kafir karena ia tidak mengenal Allah Ta’ala karena Allah itu mustahil disifati dengan sifat-sifat ini. Jika ia tidak mengenal Allah, maka wajib adanya ia kafir “.[18]

Mar’i al-Karami mengatakan : “ Mengherankan, para imam Hanabilah kami mengikuti pendapat ulama salaf, dengan mensifati Allah sesuai yang Allah sifati sendiri, dan juga Rasul-Nya tanpa tahrif, ta’thil dan tanpa adanya kaif dan tamtsil. Akan tetapi kamu temukan orang yang tidak memiliki kapasitas ilmu agamanya menisbatkan kepada tajsim, padahal pendapat mereka bahwa mujassim itu adalah kafir, berbeda dengan pendapat ulama Syafi ’iyyah yang berpendapat tidak kafirnya mujassim. Ada kaum yang mengkafirkan mujassimah, lalu kenapa mereka mengucapkan tajsim ? “[19]

Al-Majd mengatakan : “ Pendapat yang sahih, adalah sesungguhnya setiap bid’ah yang kami hukumi kafir bagi pencetusnya, maka kami menghukumi fasik bagi orang yang mengikutinya “.[20]

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 17-03-2014

[1] Fatawa Ibnu Utsaimin : 10/770

[2] Syarh Akidah Ahlus sunnah wal Jama’ah, Ibnu Utsaimin: 226

[3] 1/457

[4] Tahdzib al-Lughah : 10/314

[6] Mufradadat : 94

[7] Al-Ghunyah lil Mutawalli : 50

[8] Tafsir al-Qurthubi / Jami’ Ahkam al-Quran : 6/386

[9] Fatawa Ibnu Utsaimin : 8/95

[10] Ash-Shawaiq al-mursalah : 1/227

[11] Tanbiihaat ‘ala man tawwala ash-Shifaat : 19

[12] Fath al-Qadir : 1/350

[13] Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar : 1/562

[14] Tafisr al-Qurthubi :

[15] Hasyiah ash-Shawi ‘ala asy-Syarh ash-Shaghir : 4/342

[16] Al-Majmu’ : 4/253

[17] Al-Bahr al-Muhith : 8/280

[18] Thabaqat al-Hanabilah : 2/212

[19] Aqawil ats=Tsiqaat : 64

[20] Kasysyaaf al-Qina’ : 6/420

Thursday, 10 February 2022

الرد على مشاغبات بعض المعتزلة على صفحتي في الصفات المعاني الوجودية..

المعلوم أن المعتزلة ينفون الصفات ويقول الله عالم بلا علم بل بذاته..قادر بلا قدرة بل بذاته..وهكذا..
وعند أهل السنة الأشاعرة والماتريدية المثبتين للصفات..يقولون :الله عالم بعلم..قادر بقدرة..وهكذا..
وقد اعترض المعتزلة على إثبات الصفات بأنه:

١-يلزم تعدد القدماء..فالله قديم وصفاته قديمة..فلزم تعدد القدماء الذي يلزم منه تعدد الآلهة..فأصبحتم كالنصارى بل أشد..فالنصارى عندهم الآلهة ثلاثة..وعندكم الآلهة لا متناهية..

٢-كما يلزم من إثبات الصفات تركب الله من ذات والصفات..وكل مركَب محتاج لمركِب ومخصِص..وكل محتاج حادث.
الرد:

سأعرض أولا أهم أدلة ثبوت الصفات الوجودية..ثم سأرد اعتراض المعتزلة..

أولا..أدلة إثبات الصفات المعاني الوجودية:

١-من النقل قوله تعالى(أنزل بعلم الله).

وجه الدلالة:في الآية العلم غير الله..وإلا لو كان العلم هو الله لصح أن نقول(أنزل بالله)..وكذا قوله تعالى(أنزله بعلمه)..تصبح (أنزله به)..وكذا قوله تعالى(الله ذو القوة)..تصبح(الله ذو الله)..وكل ذلك باطل..لا يصح..لذا لا بد من أمر وجودي اسمه(العلم) أو (القوة)..ليس الله..

٢-لغة..صفات المعاني كالعلم والقدرة وأمثالها تبدأ من مأخذ الاشتقاق لأن من صدق عليه أنه(عالم)لا بد أن يصدق عليه مأخذ اشتقاقه وهو (العلم)بناء على مذهب البصريين من أن الاشتقاق من المصدر..

٣-بالعقل..من الأدلة العقلية:

الدليل الأول:الوصف عند المتكلم على وفق اصطلاحه ينقسم إلى نفسي وسلبي ومعنى.

١-وقد ثبت بالدليل عند أهل السنة والجماعة أن الله موجود ووجوده عين ذاته، وليس العلم عين ذاته...فلم يقل أحد من المسلمين أن الله علم..

٢-وثبت أيضاً أن الله منزه عن النقائص إجمالاً وتفصيلاً وأمهات ما يسلب النقص عنه سبحانه: القدم والبقاء والوحدانية والقيام بالنفس والمخالفة للحوادث، وكلها سلبيات والعلم ليس سلبي يقيناً.

٣-فإذا استحال كون العلم ينسب إلى الله على أنه صفة نفسية أو سلبية لم يبق إلى أنه صفة معنى فنسبنا صفة المعنى إلى ذاته تعالى..
الدليل الثاني:

لو لم تكن الصفات غير الذات للزم أن تكون الصفات هي الذات..فيلزم من ذلك أن يكون العلم هو القدرة هو الإرادة..وهكذا...لأن الكل هي الذات الواحدة...وبداهة أن العلم غير القدرة غير الإرادة..وهكذا.

فإن قيل:التغاير بين الصفات فيما بينها وبين الذات تغاير اعتباري..

يرد:بأن الاعتباري لا ثبوت له إلا في الذهن فلا يلزم منه التغاير خارجا..

الدليل الثالث: معلوم أن العلم يقابل لا علم..والعالم يقابل لا عالم..فلو كانت الذات هي الصفات للزم أن يكون العالم=العلم..فلا عالم= لا علم...فلو كان العلم هو العالم للزم أن يكون لا علم =لا عالم..فيلزم من القول بأن الله عالم بلا علم ..أنه عالم بلا عالم..وهذا تناقض...فيلزم أن العلم مغاير للعالم..

رد إيرادات المعتزلة:

١-قولهم:يلزم من إثبات الصفات كصفات وجودية تعدد القدماء..

الرد: إن التعدد شرطه المغايرة بالانفصال..فلو لم يجز الانفصال فلا تغاير فلا تعدد..وعند أهل السنة الذات والصفات متلازمان لا ينفكان..لأنه يستحيل وجود صفات بلا ذات قائمة بها..لذا نقول عن الصفات ليست الذات وليست غير الذات..لأنها وجودية ويستحيل انفكاكها عن الذات..

بخلاف النصارى..فقد تعددت الآلهة عندهم لثلاثة لتغايرها بانفكاكها عندهم...فالله إله منفصل..وعيسى إله منفصل..وروح القدس إله منفصل..تعالى الله..

٢-يقولهم:إثبات الصفات يلزم منه تركب الله من ذات+صفات..والمركب حادث..

الرد:التركيب هو تركيب الكل من أجزائه..وذلك في الأعيان...فالكل هو المركب من أعيان هي أجزائه..
وأما الصفات فليست أعيانا..وكذلك الذات ليست عينا..

والصفات ليست أجزاء الذات بل هي قائمة بالذات..فلا تركيب...

وأما كون الله=ذات+صفات..فهذا تركيب ذهني لا وجود له خارج الذهن..ولا يلزم من التركيب في الذهن التركيب خارجه...
والله أعلى وأعلم..